Muhammadiyah Sesalkan Pelarangan Penggunaan Cadar di Prancis

Diposting oleh admin on Rabu, 22 Desember 2010

Muhammadiyah Sesalkan Pelarangan Penggunaan Cadar di Prancis

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin, pada Rabu menyampaikan penyesalannya terhadap Prancis yang melarang penggunaan cadar dan burqa bagi muslimah di negara itu.

"Saya menyesal bahwa Prancis melarang penggunaan burqa dan cadar yang dinilai tidak menghargai kebebasan beragama yang merupakan bagian dari demokrasi," kata Din saat berbincang dengan Direktur Jenderal Urusan Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Prancis, Charles Henri Brossoeau.

Menurut dia, terdapat banyak kesalahpahaman yang terjadi antara Barat dan Islam sehingga menimbulkan pandangan "Islamofobia" di Barat.

Islam merupakan agama yang mengajarkan kedamaian bukan kekerasan, dan oleh karena itu amat penting dilakukan kerja sama dan penguatan hubungan antara Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim dengan negara-negara Barat dalam memperbaiki pandangan tersebut, kata Din.

"Indonesia dan Prancis memang memiliki pemahaman yang berbeda mengenai negara dan agama. Indonesia bukan negara sekuler, namun merupakan negara Pancasila dengan unsur Ketuhanan di dalamnya," tambahnya.

Ia mengajak Prancis untuk melakukan kerja sama dengan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan bagi pelajar Muslim sebagai jalan untuk mengubah pandangan buruk terhadap Islam sehingga Prancis dapat memaknai Islam yang sesungguhnya.

Menurut dia, saat ini dibutuhkan kerja sama yang bukan hanya antara pemerintah dengan pemerintah tetapi juga kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat sebagai upaya mewujudkan kedamaian dan keadilan global.

"Sejumlah negara seperti Jepang, Australia, dan Rusia telah melakukan kerja sama di bidang pendidikan dan kebudayaan dengan Indonesia dan direncanakan Amerika Serikat juga mengadakan hubungan menguntungkan tersebut," kata Din.

Dikatakannya, kerja sama itu bertujuan agar sejumlah negara di dunia dapat mengetahui Islam yang sebenarnya melalui jalan pendidikan dan kebudayaan.

Dalam menanggapi tawaran itu, Brossoeau akan mempertimbangkannya dan pada awal 2011 utusan Prancis dalam bidang agama direncanakan datang ke Indonesia sehingga Muhammadiyah dapat bertukar pikiran lebih banyak dengan mereka.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Search