Pria Botak di Usia 20-an Tahun Lebih Berbahaya

Diposkan oleh admin on Rabu, 16 Februari 2011

img


Selain masalah kemampuan ejakulasi, kebotakan menjadi masalah paling serius buat pria. Persoalannya bisa tambah berisiko jika kebotakan pria dialami di usia 20-an tahun.

Bila seorang pria sudah mulai mengalami kerontokan rambut dan kebotakan pada usia 20-an tahun, maka ia memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami kanker prostat di kemudian hari.

Hal ini berdasarkan hasil studi yang dilakukan peneliti Prancis, yang menunjukkan bahwa pria dengan kanker prostat dua kali lebih mungkin telah menunjukkan tanda-tanda kebotakan pada usia 20 tahun.

Peneliti mencatat bahwa pola kebotakan pada pria (androgenic alopecia) dikaitkan dengan konversi testosteron ke hormon androgen. Hormon androgen sebelumnya juga telah diketahui terlibat dalam pertumbuhan kanker prostat.

Selain itu, obat finasteride yang digunakan untuk mengobati kebotakan dengan memblok konversi testosteron menjadi androgen yang diduga menyebabkan rambut rontok, juga telah terbukti mengurangi insiden kanker prostat.

Dalam penelitian tersebut, peneliti membandingkan 388 pria yang dirawat karena kanker prostat dengan 281 pria sehat. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa pria dengan kanker prostat dua kali lebih mungkin mengalami kebotakan saat berusia 20 tahun.

Namun, risiko kanker prostat tidak berkembang pada pria yang mengalami kebotakan di usia 30-an atau 40-an tahun.

"Saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa skrining dapat bermanfaat untuk kanker prostat. Kita perlu cara untuk mengidentifikasi orang yang berisiko tinggi untuk mengembangkan penyakit," jelas penulis studi Dr Philippe Giraud, dari European Hospital Georges Pompidou di Paris, seperti dilansir Healthday, Rabu (16/2/2011).

Menurut Dr Giraud, kebotakan di usia 20 tahun dapat menjadi salah satu faktor risiko yang mudah dikenali. "Lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sekarang untuk mengkonfirmasi hal ini," tambahnya.

Dr Giraud yang juga seorang profesor onkologi radiasi di Paris Descartes University, telah melaporkan temuannya dalam edisi online jurnal Annals of Oncology edisi 15 Februari.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Search

Memuat...