Dokter yang Jutek Akan Ditinggalkan Pasiennya

Diposkan oleh admin on Sabtu, 12 Februari 2011

img

Komunikasi yang baik sangat penting bagi seorang dokter yang melakukan pelayanan langsung kepada pasiennya. Jika dokter tidak cakap berkomunikasi alias jutek, pasien akan lari ke pengobatan alternatif atau mencari dokter lain di luar negeri.

Di Indonesia, kurangnya komunikasi juga sering memicu sengketa hukum. Data Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) DKI Jakarta mencatat antara tahun 1998-2006 ada 99 kasus pengaduan terhadap profesi dokter yang sebagian besar dipicu oleh lemahnya komunikasi antara dokter dengan pasien atau rumah sakit dengan pasien.

Pakar ilmu kedokteran komunitas, Dr dr Herqutanto, MPH, MARS menilai hal ini sebagai salah satu faktor pemicu banyaknya pasien yang kabur untuk berobat ke luar negeri. Negara ikut dirugikan oleh tren semacam ini karena kehilangan salah satu sumber pendapatan.

Dr Herqutanto mengatakan sampai saat ini memang tidak ada data resmi tentang berapa jumlah pasien yang kabur ke luar negeri maupun apa motivasinya. Namun dari informasi yang ia himpun dalam disertasinya, sebagian pasien memilih kabur karena kecewa dengan cara dokter lokal menjalin komunikasi.

"Pasien datang ke dokter pasti membawa masalah. Sakit itu masalah. Kalau dokternya galak, tidak mendengarkan keluhan pasien dan suka memotong pembicaraan maka dokter itu justru menambah masalah," ungkap Dr Herqutanto usai dilantik sebagai doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Salemba, Jumat (11/2/2011).

Menurutnya, dokter perlu dibekali model pelatihan berkomunikasi yang baik dalam kurikulum pendidikannya. Pendidikan dokter di luar negeri sudah menerapkan salah satu model pelatihan yakni The Calgary Cambridge Observation Guide, sementara di Indonesia belum banyak yang menerapkan.

FKUI sendiri baru memikirkan konsep serupa pada tahun 2002, dengan menyusun sebuah modul pelatihan tentang komunikasi dan empati dalam pelayanan. Konsep itu baru benar-benar diterapkan sejak tahun 2005, bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

"Tapi itu juga bukan alasan bagi dokter-dokter angkatan tua untuk tidak komunikatif, sebab sebenarnya bisa dipelajari sendiri secara otodidak. Banyak dokter senior yang justru pakarnya komunikasi dan mereka sangat dicintai pasiennya," kata Dr Herqutanto meluruskan anggapan bahwa dokter tua biasanya lebih galak dan menakutkan.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Search