Sakit dalam Pandangan Seorang Mukmin

Diposting oleh admin on Senin, 10 Januari 2011

Beberapa saat yang lalu, saya menyaksikan rekaman (video) ceramah Syaikh Wajdi Ghunaim yang berjudul ‘Risalah ilal Maridh (Pesan untuk Orang yang Sakit)’. Masyaallah, setelah menyaksikan video tersebut, saya betul-betul menemukan makna dan hakikat sakit. Jazakumullah ya Syaikhana atas mutiara-mutiara hikmahnya.

Video rekaman itu terdiri dari tiga bagian, terdapat di YouTube. Pada video bagian yang pertama, Syaikh Wajdi Ghunaim mengingatkan bahwa bagi setiap mukmin, sakit itu adalah ujian (imtihan, ibtila’). Berbeda dengan orang kafir, dimana sakit adalah adzab (intiqam) baginya. Beliau juga mengingatkan kita dengan firman Allah: “Apakah Aku akan membiarkan kalian berkata ‘Kami beriman’ sementara kami tidak menguji kalian, sehingga Aku tahu siapa orang-orang yang bersabar.” Lalu beliau menyampaikan sabda Rasulullah saw bahwanya semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin berat pula ujian yang akan ditimpakan kepadanya. ‘Sesungguhnya manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi dan rasul, diikuti dengan orang-orang yang dibawah mereka, dan demikian seterusnya.’ Dan jika Allah mencintai seorang hamba-Nya, maka Allah pasti akan mengujinya. Sudah barang tentu, ditimpa sakit adalah salah satu bentuk ujian dari Allah Ta’ala.

Pada video bagian yang kedua, Syaikh Wajdi Ghunaim mengingatkan kita semua hakikat lain dari sakit bagi seorang mukmin. Beliau mengingatkan bahwa bagi setiap mukmin, sakit – seberapapun ringannya sakit itu, meski misalnya hanya sakit karena tersandung batu – merupakan kaffarah (penghapus dosa). Tidaklah seorang mukmin mengalami sakit, kecuali pasti dihapuskan dari dirinya kesalahan dan dosanya. Karena itulah, Rasulullah saw biasa mengatakan kepada orang yang sakit: “Laa ba’sa thahuur insyaallah (Tidak apa-apa, insyallah engkau disucikan oleh Allah). Beliau juga mengingatkan bahwa jika Allah mencintai dan menyayangi seorang hamba, maka Dia akan menyegerakan ‘siksa’ untuknya di dunia, sehingga hamba tersebut akan menghadap Allah dalam keadaan suci bersih. Sebaliknya, jika Allah membenci seorang manusia, maka Allah akan menangguhkan semua ‘siksa-Nya’ untuk kelak ditimpakan secara sempurna di akhirat. Inilah antara lain yang telah lakukan kepada Fir’aun.

Disamping itu, Allah Ta’ala juga menjanjikan pahala yang besar kepada orang-orang yang sabar ketika ditimpa atau diuji dengan sakit. Syaikh Wajdi Ghunaim menukil sebuah kisah di zaman Nabi saw. Ketika itu ada seorang wanita yang diuji oleh Allah dengan suatu jenis penyakit. Karena merasa tidak tahan dengan sakitnya maka wanita itupun datang kepada Nabi saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, doakanlah agar Allah menyembuhkan penyakitku.” Nabi saw pun bersabda kepada wanita itu, “Bersabarlah (dengan sakitmu itu) maka untukmu Surga, atau aku akan mendoakanmu sehingga Allah memberikan kesembuhan kepadamu.” Masyaallah, itulah sakit yang menjanjikan keutamaan yang sedemikian besar: Surga Allah Ta’ala.

Ya, apapun yang Allah timpakan kepada hamba-Nya selalu merupakan yang terbaik dalam pandangan Allah – meski seringkali dianggap buruk dalam pandangan manusia. Syaikh Wajdi Ghunaim mengutip sebuah ayat dalam QS Ali ‘Imran: “Katakanlah: ‘Ya Allah, Pemilik Segala Kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. DITANGAN-MU SEGALA KEBAIKAN.” Ayat ini menegaskan bahwa hal-hal yang sering dianggap baik seperti diberikannya kekuasaan dan kemuliaan mapun hal-hal yang dianggap buruk seperti dicabutnya kekuasaan dan dihinakannya seseorang, semuanya dalam pandangan Allah adalah KEBAIKAN. Termasuk sakit. Meski dalam pandangan manusia itu seringkali dianggap buruk, namun dalam pandangan Allah adalah kebaikan. Dan jika itu menimpa seorang mukmin, maka itu adalah yang terbaik.

Pada video bagian yang ketiga (terakhir), Syaikh Wajdi Ghunaim mengatakan bahwa kita juga dianjurkan untuk berobat. Tetapi ingat, berobat ini hanyalah sebab (sarana) agar Allah memberikan kesembuhan. Jangan pula pernah lupa untuk berobat dengan cara membaca ayat-ayat dan doa-doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw, yang biasa disebut sebagai ruqyah.

Adapun setelah kita berusaha berobat, pasrahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala. Setelah kita berobat, sembuh tidaknya kita bukanlah urusan kita. Itu adalah sepenuhnya urusan Allah Ta’ala. Hanya Dia sajalah yang tahu mana yang terbaik untuk hambanya.

Terakhir, Syaikh Wajdi Ghunaim mengingatkan agar selama sakit, hendaknya kita banyak melakukan sholat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.

Subhanallah, sakit ternyata penuh dengan keutamaan yang tak terkira nilainya. Sekali lagi, jazakumullah ya Syaikhana atas mutiara-mutiara hikmahnya. Jazakumullah kulla khair.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Search