'Khalifah': Pencarian Identitas Perempuan Bercadar

Diposkan oleh admin on Senin, 10 Januari 2011

Gambar
Jakarta - Film kedua dari sutradara berbakat Nurman Hakim agaknya akan sulit mendapatkan simpati baik dari kalangan penonton film komersial maupun film seni (art-house).

'Khalifah' (yang berarti pemimpin) pada dasarnya bercerita tentang hidup seorang perempuan bernama Khalifah yang akhirnya mampu memimpin dirinya-sendiri. Premisnya sederhana. Untuk menolong ayah dan adik laki-lakinya, Khalifah merelakan dirinya menikah (baca: dijodohkan) dengan Rasyid, seorang penjual keliling barang-barang dari Arab Saudi.

Setelah menikah, Khalifah (Marsha Timothy) yang bekerja di salon mulai mengenakan jilbab atas anjuran suaminya. Setelah insiden keguguran yang dialami Khalifah, Rasyid (Indra Herlambang) yang jarang di rumah meminta Khalifah menggunakan cadar karena bagi Rasyid, peristiwa itu adalah peringatan dari Allah untuk menutup keseluruhan aurat di tubuh Khalifah. Khalifah pun menuruti permintaan Rasyid.

Sejak mengenakan cadar, Khalifah mulai mendapatkan perlakuan yang berbeda. Bukan hanya ekspresi rasa sinis, ia bahkan dicurigai sebagai istri teroris oleh korban bom yang kebetulan bertemu di halte bis. Ia pun sempat ditahan oleh polisi karena alasan yang sama.

Subplot film bercerita soal tetangga Khalifah bernama Yoga (Ben Joshua), seorang tukang jahit. Yoga dan Khalifah sering bertemu secara tak sengaja di depan rumah. Yogalah yang menolong Khalifah saat keguguran. Ia pula yang menjahitkan baju gamis dan cadar yang dikenakan Khalifah. Yoga memberikan mesin jahitnya ketika akhirnya ia pergi ke Arab Saudi –karena mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Akhir film tidak terlalu mengejutkan. Rasyid ternyata tak lebih dari seorang pelaku poligami yang bernasib malang, sementara Yoga masih setia dengan Khalifah –meski jauh di Arab Saudi.

Mengikuti gagasan film debutnya '3 Doa 3 Cinta' yang mengambil latar pesantren, Nurman Hakim kembali menyajikan gambaran yang berbeda tentang masyarakat Muslim Indonesia. 'Khalifah' mencoba merepresentasikan perempuan bercadar ke layar. Materi yang sebenarnya menarik, sayangnya, tak dieksekusi dengan hati-hati. Skenario film ini bisa dikatakan sangat lemah, sehingga cerita tidak mengalir lancar dan penonton pun tidak mendapatkan pengalaman batin yang dimaksudkan sang pembuat.

Selain soal banyaknya adegan yang serba kebetulan, karakter-karakter dalam film ini juga tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Beberapa dialog kadang terasa janggal, belum lagi akting para tokoh yang tidak terlalu mengesankan. Meski memiliki kualitas teknis yang baik, perlakuan cerita yang banyak menampilkan kesendirian Khalifah, dengan dialog yang minimum, tidak membuatnya kemudian lebih terasing dan tertekan oleh lingkungan sosial.

Meski sempat bertemu dengan perempuan pemakai cadar yang lain (diperankan Titi Sjuman), Khalifah tidak pernah ditampilkan secara sosial. Ia tidak pernah ikut pengajian atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan komunal keagamaan. Ketiadaan konteks sosial ini membuat film 'Khalifah' terlihat membosankan dan kurang multidimensional.

Bagi penonton '3 Doa 3 Cinta', film ini adalah sebuah kemunduran, terutama di departemen penyutradaraan dan penulisan. Dalam film pertamanya, Nurman Hakim berhasil menyampaikan gagasan yang naïf namun cemerlang melalui rangkaian peristiwa yang masuk akal, tanpa kembang-kembang teknis sinema yang mengganggu. Seharusnya kekuatan ini diteruskan. Kalau tidak, ia hanya akan menjadi catatan tambahan bagi fenomena 'one-hit wonder'.

Veronika Kusumaryati, belajar di Departemen Kajian Film Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Ia salah seorang pendiri Klub Kajian Film IKJ. Kini bekerja sebagai kurator film.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Search