Rajin Ikut Uji Klinis Bisa Bebas Kanker?

Diposkan oleh admin on Senin, 22 November 2010

Headline




New York - Orang yang terbiasa mengikuti uji klinis dan penyelamatan kanker usus besar, umumnya memiliki kesehatan lebih baik karena teratur melakukan skrining kanker dan mengikuti rekomendasi kesehatan lainnya.


Secara khusus, peserta uji klinis dibandingkan orang yang bebas kanker, lebih sering menerima vaksinasi flu baru dan mendapat skrining kanker teratur seperti pap smear, mammogram, dan tes darah untuk memeriksa kanker prostat.

"Hasil penemuan ini tidak mengejutkan," kata penulis hasil penelitian ini, Dr Hiroko Kunitake di Massachusetts General Hospital kepada Reuters Health. "Tapi ini mungkin bukan diagnosis kanker yang memotivasi mereka untuk tetap sehat," tambahnya.

Semua yang selamat dari kanker telah terdaftar dalam uji klinis - dan setelah itu mereka harus memiliki asuransi kesehatan dan dokter yang mendorong mereka untuk mencobanya, kata Kunitake.

Orang yang berpartisipasi dalam uji klinis juga biasanya cukup termotivasi, terorganisir dan mampu menavigasi sistem kesehatan yang rumit. "Jadi mereka mungkin cenderung ekstra dalam mengikuti perintah dokter agar tetap sehat," tambah peneliti.

Namun, meskipun penderita kanker yang lebih baik dalam hal keteraturan skrining daripada orang yang tidak mengalami penyakit, banyak yang masih gagal mengikuti jadwal skrining penting dan suntikan flu.

"Meskipun pasien melakukannya lebih baik daripada masyarakat umum, mereka masih belum 100%," kata Kunitake soal hasil temuan yang dirilis dalam Journal of Clinical Oncology.

Untuk mengetahui seberapa baik penderita kanker mengikuti rekomendasi tentang pemeriksaan reguler, Kunitake dan rekan melakukan survei terhadap 708 orang yang telah berpartisipasi dalam uji klinis dan tinggal selama paling sedikit lima tahun setelah sakit, bersama dengan lebih dari 2.000 orang yang belum pernah kanker.

Mereka menemukan bahwa dua-pertiga dari perempuan yang selamat telah menerima pap smear dan lebih dari 80% menerima mammogram tahun lalu. Di antara mereka yang tidak pernah menderita kanker, hanya 55% yang telah mendapat pap smear, dan 71% mammogram.

Hampir 85% dari korban laki-laki telah menerima tes darah untuk memeriksa kanker prostat dalam tahun sebelumnya, dibandingkan dengan kurang dari 75% dari mereka tanpa kanker.

Bulan lalu, sebuah penelitian lain muncul dalam jurnal yang sama menemukan fakta bahwa menjadi bagian dari percobaan klinis tidak menjamin perawatan kanker yang lebih baik.

Kunitake menjelaskan, studi baru tidak memberikan wawasan tentang manfaat dari uji klinis, karena pasien kemungkinan besar sadar kesehatan dan termotivasi untuk memulai kesadaran untuk sehat. Itulah yang menyebabkan mengapa mereka mengikuti uji klinis.

Namun, Dr Craig Earle di Institute for Clinical Evaluative Sciences di Ontario, yang meninjau ulang hasil penelitian itu untuk Reuters Health mengatakan, ada alasan untuk mencurigai bahwa orang yang masuk uji klinis mungkin menjadi lebih sehat sebagai hasilnya.

"Meskipun ada kontroversi tentang apakah partisipasi dalam uji klinis mengarah pada perawatan berkualitas tinggi untuk fase perawatan yang diuji, itu biasanya menghasilkan lebih banyak perhatian medis," katanya dalam sebuah e-mail. Sebagai hasilnya, "berpartisipasi dalam percobaan dan hidup dengan kanker dapat berubah menjadi hal yang baik bagi mereka dalam jangka panjang."

"Dan hanya menerima diagnosis kanker mungkin cukup untuk mendorong beberapa orang mengawasi lebih baik kesehatan mereka. Secara individual, menakut-nakuti kesehatan seperti diagnosis kanker dapat membuat pasien menyadari kerentanan mereka dan memutuskan untuk lebih proaktif untuk menjaga kesehatan diri sendiri," tambah Earle.terselubung.co.cc

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Search